![]() |
| Pukat Aceh Sumber Foto: http://www.acehkita.com |
1. Asal-usul
Menangkap ikan di laut atau meupayang
merupakan salah satu sumber mata pencaharian masyarakat di Kabupaten Aceh
Besar, khususnya mereka yang mendiami daerah sepanjang pantai barat dan timur
(Rusdi Sufi, et al., 1997:36). Secara geografis, kabupaten tempat kelahiran
Pahlawan Nasional Cut Nyak Dhien ini terletak di bagian paling ujung utara
Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan berbatasan dengan Samudera Hindia
(Nasruddin Sulaiman, et al., 1992/1993:ix). Dari segi topografinya, daerah
tersebut merupakan tanah daratan yang landai sehingga memungkinkan untuk
dijadikan sebagai pusat perekonomian oleh masyarakat setempat di sektor
perikanan laut.
Dalam mengembangkan sektor perikanan
laut, sebagian nelayan di Kabupaten Aceh Besar masih melakukannya secara
tradisional. Hal ini jika tampak jelas dilihat dari peralatan-peralatan yang
digunakan. Salah satu alat tersebut adalah pukat aceh. Pada dasarnya,
pukat ini adalah sejenis pukat pantai (beach seine), yaitu suatu alat penangkap ikan
yang berbentuk jaring panjang, bersayap, dan memiliki sebuah kantong pada
bagian ujungnya http://www.scribd.com.
Di Aceh, alat ini khusus digunakan untuk menangkap ikan pada lokasi yang
berpantai landai dan berpasir, serta pada lokasi-lokasi tertentu yang
ditetapkan oleh Panglima Laôt (http://www.acehforum.or.id).
Pukat ini dioperasikan oleh sekurang-kurangnya 15 orang dengan cara
dilingkarkan pada lokasi tertentu dan kemudian ditarik menelusuri dasar
perairan menuju ke pantai dengan menggunakan perahu dayung.
Menurut Sulaiman, et al., penamaan pukat
aceh ini hanya sekadar untuk membedakannya dari pukat pantai lain yang
banyak digunakan oleh para nelayan di daerah-daerah lain di Nusantara
(Sulaiman, et.al., 1992/1993:10). Di beberapa daerah di Pulau Jawa, pukat
pantai dikenal nama seperti puket, krikit, dan kikis. Khusus di
daerah Trenggalek, Jawa Timur, alat ini lebih dikenal dengan nama krakat
prigi karena beroperasi di Perairan Prigi (http://fiqrin.wordpress.com).
Jadi, pada dasarnya, pukat pantai ini memiliki nama dan ciri yang berbeda-beda
pada setiap daerah.
Pukat pantai dari Aceh ini termasuk
alat penangkapan ikan yang ramah lingkungan karena tidak mengganggu biota laut lainnya. Tidak mengherankan
jika pukat ini termasuk salah satu peralatan penangkap
ikan yang ideal menurut hukum adat nelayan setempat yang dikenal dengan nama Hukôm
Adat Laôt, yaitu hukum adat nelayan yang berfungsi untuk mengatur tata-cara
penangkapan ikan di laut (http://wapedia.mobi).
Pembentukan Hukôm Adat Laôt
tersebut tidak terlepas dari sistem pengetahun atau persepsi masyarakat
setempat terhadap pemeliharaan laut. Mereka sadar bahwa merusak laut juga dapat
merusak sumber mata pencaharian mereka. Menurut Oto Soemarwoto (dikutip dalam
Poltak Johansen), pada umumnya masyarakat lokal memiliki persepsi mengenai
lingkungan—baik melalui pengalaman atau pengetahuan yang diwarisi secara
turun-temurun dari para leluhur—yaitu bagaimana mereka harus beradaptasi,
mengelola, dan memanfaatkan lingkungan (Poltak Johansen, 2008:42). Penggunaan
alat-alat penangkapan ikan tradisional seperti pukat aceh ini merupakan
salah satu bentuk kepedulian para nelayan di Aceh terhadap pemeliharaan
lingkungan laut.
2. Komponen-komponen Pukat Aceh
Pukat aceh
merupakan suatu unit peralatan yang terdiri dari beberapa unsur atau komponen
yang saling mendukung dan tidak dapat dipisahkan dari sebuah pukat. Menurut
Sulaiman, et al., jika salah satu komponen tersebut tidak terpenuhi, maka pukat
ini tidak dapat berfungsi sebagai suatu alat penangkap ikan (Sulaiman, et al.,
1992/1993:10-11).
Secara garis besar, komponen pukat
aceh dapat dibagi menjadi empat bagian penting, yaitu jok pukat atau
sayap (wings), ulaya atau badan (shoulder), euntong
atau kantong (bag), dan lamat atau tali penarik (warps).
Setiap komponen terbuat dari bahan-bahan yang berbeda. Adapun komponen-komponen
dan bahan-bahan yang digunakan adalah sebagai berikut.
1. Jok pukat atau sayap, yaitu
sepasang jaring yang terletak di sisi kiri dan kanan pukat yang berfungsi
sebagai dinding untuk menggiring ikan agar masuk ke dalam kantong pukat. Pada
umumnya, komponen ini terbuat dari polyethylene. Namun, jok pukat
yang digunakan oleh nelayan di Aceh terbuat dari tali ijuk atau tali pohon
enau.
2. Ulaya atau badan pukat,
yaitu bagian badan jaring yang berbentuk bulat panjang dan terletak di
tengah-tengah, yakni berada di antara jok pukat dan euntong.
Komponen ini berfungsi untuk mengurung ikan yang sudah terperangkap agar masuk
ke dalam kantong. Bahan yang digunakan untuk membuat komponen ini adalah benang
katun.
3. Euntong atau kantong, yaitu
sebuah kantong yang berbentuk kerucut sebagai tempat ikan-ikan terperangkap.
Komponen ini terletak di bagian paling ujung pukat yang berfungsi untuk
menampung hasil tangkapan. Euntong pada pukat aceh terbuat dari
benang yang dirajut dengan lebih kecil daripada jok dan ulaya,
yaitu kira-kira sebesar ukuran jari telunjuk.
4. Lamat dan rundok, yaitu
tali penarik (warps) yang berfungsi untuk menarik pukat ke pantai. Kedua
komponen ini terletak pada bagian sayap pukat. Lamat terletak pada sisi
kiri pukat dan disebut sayap I, sedangkan rundok terletak pada sisi
kanan pukat dan disebut sayap II. Biasanya, tenaga yang dibutuhkan untuk
menarik tali penarik tersebut sekitar 15 nelayan atau lebih, tergantung pada
panjang dan besarnya sebuah pukat. Komponen ini terbuat dari beberapa batang
rotan yang dipilin kira-kira sebesar pergelangan tangan.
Selain keempat komponen utama di atas, pukat
aceh juga memiliki komponen tambahan, yaitu berupa pemberat (sinker)
dan pelampung (floats). Kedua komponen ini memiliki peranan penting
dalam sebuah pukat karena berfungsi untuk mengatur kedudukan atau posisi pukat
di dalam air.
a. Pemberat (sinker), yaitu
benda berat yang dipasang atau digantung pada bagian bawah jok pukat. Jenis
pemberat yang digunakan oleh nelayan di Aceh umumnya adalah batu kali yang
bulat atau timah. Secara spesifik, pemberat ini berfungsi untuk menahan tekanan
arus air sehingga posisi jaring dalam air tidak bergerak. Selain itu, pemberat
ini juga berfungsi untuk mempercepat penenggelaman jaring ke dalam air,
serta membantu membuka mulut jaring ke arah bawah.
b. Pelampung (floats), yaitu
benda ringan (pengapung) yang dipasang pada bagian atas jok pukat yang
diberi sebuah kaja (tali) sebagai tempat untuk mengikatkan pelampung. Pukat
aceh memiliki dua jenis pelampung, yaitu pelampung utama dan pelampung
tambahan.
1. Pelampung utama
adalah sejumlah pelampung yang dipasang secara berjejer di atas jok yang
berfungsi untuk memberi daya apung atau mengapungkan bagian atas jaring pukat,
merentangkan jaring sayap, dan membantu membuka mulut jaring ke arah atas.
2. Pelampung tambahan
adalah sebuah pelampung berukuran besar yang dipasang pada bagian atas kantong.
Pelampung ini berfungsi sebagai tanda untuk mengetahui posisi atau letak
kantong pukat di laut dan sebagai petunjuk bagi pawang untuk mengetahui
keseimbangan posisi antara jaring kiri dan jaring kanan. Biasanya di atas
pelampung besar ini juga dipasangi sebuah bendera agar posisi kantong pukat lebih
mudah diketahui.
Dengan bantuan pelampung besar
tersebut, seorang pawang dapat dengan mudah mengetahui dan mengarahkan para
penarik lamat yang berada di darat, yaitu kapan mereka harus bergeser
dan seberapa jauh pergeserannya. Pada umumnya, bahan yang digunakan untuk
membuat pelampung besar tersebut adalah kayu gabus atau galong
(Sulaiman, et al., 1992/1993:14).
Selain itu, pukat aceh juga
harus dilengkapi dengan alat penunjang atau alat bantu lainnya yang berupa peraho
(perahu). Menurut Sulaiman, et al., perahu merupakan sarana penunjang paling
utama bagi sebuah pukat karena tanpa alat ini pelaksanaan menangkap ikan dengan
pukat aceh tidak dapat dilakukan. Alat penunjang ini digunakan sebagai
sarana untuk menebar pukat di perairan atau laut (Sulaiman, et al,
1992/1993:15). Penggunaan perahu sebagai alat bantu dalam pengoperasian pukat
di setiap daerah sangat bervariasi. Ada yang dilengkapi dengan katir, dan ada
pula yang dilengkapi dengan perahu motor. Namun, para nelayan di Aceh hanya
menggunakan perahu kayuh atau perahu dayung yang bahannya terbuat dari kayu
pilihan.
3. Cara Pembuatan
Pukat aceh
adalah salah satu alat penangkap ikan tradisional nelayan di Aceh yang cara
pembuatannya cukup sederhana namun memerlukan ketekunan. Untuk membuat satu
unit pukat aceh diperlukan waktu yang cukup lama, terutama pada proses
pembuatan lamat, jok, ulaya, dan euntong karena komponen-komponen
yang terbuat dari tali tersebut harus dipilin terlebih dahulu, kemudian dirajut
sedemikian rupa sehingga panjangnya bisa mencapai ratusan meter. Berikut ini
cara dan urutan pembuatan komponen-komponen tersebut.
a. Pembuatan Lamat
Pembuatan satu unit pukat aceh
biasanya dimulai dari pembuatan lamat karena komponen ini menjadi dasar
untuk merangkai komponen-komponen berikutnya. Bahan yang digunakan untuk
membuat komponen ini agak berbeda dengan bahan yang digunakan untuk tali
penarik pukat pada umumnya. Komponen ini dibuat khusus dari sejumlah atau
beberapa batang rotan berukuran kecil—biasanya berjumlah lebih kurang 6
batang—yang dipilin pipih sebesar pergelangan tangan laki-laki dewasa. Lamat
ini sengaja dibentuk pipih agar mudah untuk ditarik dan digulung. Proses
pemilinan biasanya dilakukan dengan membuat tempat duduk untuk memilin di atas
sebuah pohon yang kuat. Hal ini dilakukan agar tali yang sudah dipilin mudah
dijulurkan ke bawah sehingga tidak mudah kusut. Batang-batang rotan yang telah
dipilin tersebut dinamakan glong atau gulungan. Panjang setiap satu glong
berkisar antara 30 sampai 50 meter. Sementara itu, jumlah lamat yang
dibutuhkan untuk setiap pukat tergantung pada jarak lokasi penangkapan ikan
dengan pantai. Jika jarak antara lokasi penangkapan ikan dengan pantai relatif
dekat, maka jumlah lamat yang dibutuhkan hanya satu glong. Namun,
jika jaraknya relatif jauh dari pantai, maka jumlah gulungan yang dibutuhkan
terkadang mencapai 20 glong.
b. Pembuatan Jok Pukat
Setelah pembuatan lamat selesai,
maka proses selanjutnya adalah pembuatan jok pukat. Komponen ini dibuat
dari tali ijuk atau tali pohon enau yang dirajut agak renggang (lebar) dan
panjang lamat bisa mencapai 200 meter. Sebelum dirajut, terlebih dahulu
tali ijuk tersebut dipilin selebar telapak tangan. Meskipun rajutan jok
pukat ini dibuat agak lebar, namun ikan-ikan yang telah terperangkap di
dalamnya tetap tidak mudah untuk menerobos keluar. Jika dilihat dari segi
fungsinya, maka ukuran mata jaring pada jok pukat ini bukan untuk
menjerat ikan, tetapi hanya berfungsi sebagai penghalang atau penghalau agar
ikan-ikan yang telah terperangkap tidak keluar dan berkumpul pada bagian euntong
atau kantong pukat.
Setelah itu, bagian atas tali jok
diberi kaja (tali) sebagai tempat untuk mengikat pelampung, dan bagian
bawahnya diberi benda pemberat berupa batu kali yang bulat atau timah.
Penggunaan pelampung sebagai penahan pada bagian atas jok dan batu kali
sebagai pemberat di bagian bawahnya dimaksudkan agar posisi pukat di dalam air
tidak kusut.
c. Pembuatan Ulaya
Pembuatan komponen ini sama dengan cara
pembuatan jok pukat. Hanya saja, bahan yang digunakan untuk membuat ulaya
terbuat dari benang katon yang dipilin dan dirajut menjadi mata jaring yang
lebih kecil, yaitu selebar telapak tangan. Dengan demikian, kawanan ikan yang
telah terperangkap di dalam ulaya akan lebih sulit untuk menerobos
keluar. Panjang komponen ini berkisar antara 30 sampai 40 meter. Seperti halnya
dengan jok, komponen ini diberi pelampung pada bagian atasnya dan
pemberat pada bagian bawahnya.
d. Pembuatan Euntong
Pembuatan komponen berikutnya adalah pembuatan euntong atau kuncong.
Komponen ini merupakan komponen yang sangat penting dalam suatu unit pukat
aceh. Komponen ini merupakan tempat kawanan ikan terperangkap. Oleh karena
itu, mata jaring pada kantong ini harus dirajut lebih kecil, yaitu biasanya
sebesar ukuran jari telunjuk sehingga semua jenis ikan, baik yang berukuran
besar maupun kecil, tidak dapat menerobos keluar. Setiap euntong
memiliki mulut yang disebut dengan babah euntong yang merupakan jalan
bagi ikan-ikan yang terperangkap untuk masuk ke dalam euntong.
Setelah seluruh komponen pukat selesai, maka proses selanjutnya adalah
pembuatan perahu. Disebutkan sebelumnya bahwa pelaksanaan penangkapan ikan
dengan pukat ini tidak dapat dilakukan tanpa bantuan perahu. Oleh karena itu,
perahu ini harus dibuat sedemikian rupa dengan menggunakan bahan-bahan kayu
pilihan yang banyak tersedia di alam sekitar. Penggunaan material kayu sebagai
bahan pembuat perahu memiliki beberapa kelebihan, yaitu bahannya mudah didapat,
harganya lebih murah, teknik pembuatannya sederhana, dan perawatannya pun cukup
mudah.
Secara praktis, perahu pukat ini dibuat
sedemikian ramping, yaitu bagian kepala dibuat lebih lancip dari pada bagian
ekornya. Hal ini bertujuan agar perahu dapat bergerak lebih lincah, cepat, dan
mudah menjalankannya (Sulaiman, et al., 1992/1993:15). Panjang perahu ini
sekitar 10 meter dengan kapastitas penumpang sekitar 4 - 6 orang, yaitu terdiri
dari seorang pawang pukat dan 4 – 5 orang pekerja atau awak. Oleh karena itu,
sebuah perahu harus memiliki enam buah kayu pendayung.
5. Teknik Pengoperasian
Secara garis besar, teknik
pengoperasian pukat aceh dapat dilakukan melalui dua cara, yaitu dengan
cara labo laot (payang) dan labo darat (laboh pasi).
a. Teknik labo laot atau payang
Teknik labo laot adalah sebuah
teknik penangkapan ikan yang dilakukan oleh nelayan Aceh dengan cara
melemparkan atau menebar pukat ke laut dengan menggunakan perahu dayung. Pukat
tersebut ditebar pada lokasi tertentu yang diyakini terdapat banyak ikannya.
Setelah ditebar secara melingkar untuk mengurung kawanan ikan, pukat tersebut
kemudian ditarik naik ke atas perahu. Oleh karena itu, teknik menangkap dengan
sistem labot laot ini tidak memerlukan lamat atau tali penarik
yang panjang.
Pada umumnya, penangkapan ikan dengan
teknik labo laot ini dilakukan pada lokasi yang air lautnya keruh,
seperti di muara-muara sungai besar. Tak jarang pula teknik ini dilakukan pada
lokasi yang berair jernih, tapi harus dilakukan sebelum matahari terbit di ufuk
timur atau pada saat hari sudah senja. Pemilihan lokasi dan waktu dalam teknik
tersebut dimaksudkan agar kawanan ikan yang telah terperangkap tidak mudah
menerobos jok pukat (Sulaiman, et al., 1992/1993:19). Selain itu,
teknik labo laot ini biasa juga dilakukan pada musim ombak besar karena
pada musim tersebut pukat sulit dilabuhkan ke pantai (http://id.wikipedia.org).
b. Teknik labo darat
Teknik labo darat adalah teknik
penangkapan ikan dengan cara mengepung kawanan ikan pada suatu lokasi tertentu
di sekitar pantai. Teknik ini biasanya dilakukan oleh sekurang-kurangnya 10 -
15 orang nelayan yang terdiri dari seorang pawang atau pemimpin, lima orang
awak perahu, dan selebihnya adalah para pembantu tarek pukat atau teumupoh
(awak teumare). Pawang bertugas mengatur penebaran atau penurunan pukat
ke laut dari atas perahu dengan dibantu para awak perahu sedangkan para pembantu
tarek pukat bertugas menarik pukat dari arah pantai setelah mendapat
isyarat dari pawang. Ada beberapa tahap yang harus dilalui untuk melaksanakan
teknik ini, yaitu persiapan, penebaran pukat, penarikan pukat, dan pengambilan
hasil tangkap.
1). Tahap Persiapan
Langkah pertama dalam tahap persiapan
ini adalah para awak perahu dan pawang terlebih dahulu naik ke atas perahu yang
ditambatkan di pantai. Setelah itu, komponen-komponen pukat seperti lamat,
jok, dan ulaya mulai disusun sedemikian rupa dengan dibantu oleh
para teumupoh untuk mempermudah proses penebaran pukat di laut. Adapun
susunan komponen dalam perahu yaitu dimulai dari yang paling dasar dengan
urutan sebagai berikut: gulungan tali pertama II (rundok), jok pukat,
kantong (euntong), dan teratas adalah sayap I (lamat).
Selain itu, letak pelampung dan pemberat juga diatur sedemikian rupa. Pelampung
diletakkan pada bagian sisi kanan perahu dengan menghadap ke arah laut,
sedangkan pemberat diletakkan di sebelah kiri perahu dengan menghadap ke
pantai. Sebelum perahu dikayuh ke laut, salah satu ujung lamat (tali
penarik) dipegang oleh para teumupoh atau biasanya ditambatkan pada
sebuah patok kayu yang telah ditancapkan dengan kokoh di pantai. Selain sebagai
tempat untuk menambatkan tali penarik (lamat), patok kayu ini juga
berfungsi sebagai penggulung lamat.
![]() |
| Mendorong perahu ke laut Sumber Foto: http://www.acehkita.com |
2). Tahap Penebaran
Pukat
Setelah tahap persiapan selesai, para
awak kapal segera mengayuh perahu menuju ke laut seraya menurunkan jok pukat
dan ulaya bagian kiri secara bertahap. Jika perahu telah sampai pada
jarak tertentu (disesuaikan dengan panjang lamat), maka kantong pukat
segera diturunkan. Setelah itu, perahu dikayuh ke arah kanan menuju ke pantai
sambil menurunkan jok dan ulaya bagian kanan. Proses penurunan jok
dan ulaya diusahakan membentuk setengah lingkaran dengan menghadap
ke garis pantai. Ketika perahu mendekati pantai, tali rundok segera
dilemparkan ke pantai dan disambut oleh para teumupoh.
3). Tahap Penarikan Pukat
Begitu tali rundok sampai di
pantai, sang pawang segera kembali ke laut dengan menggunakan sebuah sampan
untuk melihat keadaan kantong. Setelah melihat kawanan ikan telah terperangkap
dalam kantong, sang pawang segera memberi isyarat dengan melambaikan suatu
benda ke atas, misalnya topi, tudung, atau kain kepada para teumupoh
agar segera menarik ujung lamat dan rundok. Selama proses penarikan berlangsung, sang pawang harus
mengikuti dan mengatur penarikan pukat agar posisi lamat dan rundok
tetap kencang dan berimbang sampai ke pantai. Sementara itu, para teumupoh
secara bersama-sama menarik ujung lamat dan rundok dengan
diiringi teriakan kecil lantunan syair-syair yang indah dalam bahasa Aceh.
![]() |
| Menarik
pukat dari pantai Sumber Foto: http://www.mediaindonesia.com |
4). Tahap Pengambilan Hasil Tangkapan
Setelah seluruh jok dan ulaya
pukat tiba di pantai, kantong pukat segera ditarik dan hasil tangkapan
dikeluarkan. Selanjutnya, sebagian nelayan memilih ikan hasil tangkapan yang
jenisnya bermacam-macam tersebut dengan cara memisahkan dan kemudian memasukkannya
ke dalam keranjang yang telah disiapkan. Sementara itu, nelayan yang lain
bertugas menaikkan lamat dan komponen pukat lainnya ke atas perahu.
Namun, jika ada komponen pukat yang rusak akibat gesekan batu karang, terlebih
dahulu komponen tersebut diperbaiki (dirajut) sebelum digunakan pada
pengoperasian selanjutnya.
![]() |
| Kantong pukat berisi ikan hasil tangkapan Sumber Foto: http://www.acehkita.com |
Hasil tangkapan tersebut tidak semuanya
dijual, melainkan sebagian dibagi kepada mereka yang terlibat dalam kegiatan
pengoperasian pukat tersebut. Jika seandainya hasil tangkapan (ikan) yang
didapatkan 10 keranjang, maka cara pembagian hasilnya adalah seperti berikut: 2
keranjang di antaranya dibagi untuk semua anggota penarik pukat, yaitu seorang
pawang pukat mendapat bagian 10%, awak perahu yang terdiri dari 4 hingga 5
orang mendapat bagian 40%, dan pembantu tarek pukat atau teumupoh/awak
teumarek yang terdiri dari beberapa nelayan mendapat 50%. Dengan kata lain,
20% dari hasil tangkapan dinikmati oleh pawang, awak perahu, dan awak
teumarek, sementara 80% sisanya dijual kepada muge (agen atau
pembeli grosiran) (http://www43.indowebster.com).
Sistem bagi hasil tradisional dengan model seperti di atas, hingga saat ini
masih berlaku di kalangan nelayan di Kabupaten Aceh Besar dan diatur oleh
Panglima Laôt setempat.
6. Kelebihan dan Kelemahan
Pada umumnya, setiap alat penangkapan ikan memiliki kelebihan dan
kekurangan. Peralatan penangkap ikan tradisional nelayan Aceh ini juga memiliki
kelebihan dan kelemahan.
a. Kelebihan
Adapun kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh pukat aceh adalah
sebagai berikut:
1. bahan-bahan yang digunakan untuk membuat pukat tersebut mudah didapatkan
2. beknik pembuatannya sederhana dan perawatannya cukup mudah
3. hasil tangkapan relatif banyak
4. alat ini termasuk
alat tangkap aktif, yaitu alat tangkap yang digerakkan memburu ikan sehingga
terperangkap
5. alat ini termasuk alat tangkap yang ramah lingkungan karena tidak merusak
biota laut lainnya dan tidak berbahaya bagi nelayan. Kriteria ini berdasarkan
kriteria yang telah ditetapkan oleh Food Agriculture Organization (FAO)
pada tahun 1965 (http://tadjuddahmuslim.wordpress.com)
b. Kelemahan
Adapun kelemahan atau kekurangan alat
ini adalah sebagai berikut:
1. alat ini harus
dioperasikan oleh orang banyak sehingga membutuhkan tenaga yang banyak
2. hasil tangkapannya
hanya jenis-jenis ikan yang hidup di dasar pantai dan udang (shrimp)
7. Nilai-nilai
Pukat aceh
adalah salah satu jenis peralatan penangkap ikan masyarakat Aceh yang
mengandung nilai-nilai budaya. Nilai-nilai budaya tersebut adalah sebagai
berikut.
1. Nilai pelestarian
alam. Pukat aceh termasuk peralatan penangkap ikan yang ramah lingkungan
karena tidak merusak habitat dan tempat tinggal serta
tempat berkembangbiaknya ikan dan oganisme lainnya. Hal ini dapat dilihat pada
bahan-bahan yang digunakan oleh alat ini terbuat dari bahan-bahan alami yang
tidak mengandung unsur berbahaya, seperti tali ijuk untuk membuat jok pukat,
benang untuk membuat ulaya dan kantong, dan kayu untuk membuat perahu.
2. Nilai keterampilan.
Pembuatan komponen-komponen pukat aceh seperti lamat, jok, dan ulaya
memerlukan keterampilan khusus, misalnya keterampilan memilin rotan menjadi lamat,
dan keterampilan merajut ijuk menjadi ulaya. Di samping itu, seorang
pembuat jok atau ulaya harus mengetahui ukuran luas mata jaring
yang harus dibuat sehingga tidak mudah diterobos oleh kawanan ikan
3. Nilai ekonomis. Dapat
dikatakan bahwa hampir semua bahan yang digunakan untuk membuat komponen pukat
aceh, termasuk alat penunjang utamanya (perahu), diambil dari alam.
Bahan-bahan tersebut diolah sendiri nelayan untuk dibuat pukat aceh.
Bahkan, tali ijuk yang digunakan untuk membuat jok pukat merupakan hasil
kerajinan masyarakat setempat (Sulaiman., et al., 1992/1993:17).
Dengan keterampilan yang dimiliki tersebut, para nelayan tidak perlu lagi
mengeluarkan biaya yang banyak untuk membeli tali ijuk untuk keperluan
pembuatan jok pukat.
4. Nilai gotong-royong dan
keadilan. Pukat aceh merupakan peralatan penangkap ikan yang memerlukan
tenaga yang banyak. Oleh karena itu, untuk mengoperasikan alat ini harus
dilakukan secara bergotong-royong oleh para nelayan dan hasilnya kemudian
dibagi secara adil dengan sistem bagi hasil berdasarkan sistem pembagian yang
disepakati bersama oleh para nelayan.
8. Penutup
Pukat aceh adalah
salah satu hasil kreasi masyarakat nelayan di Aceh yang perlu dilestarikan dan
dikembangkan karena merupakan alat tangkap ikan yang hemat energi dan ramah
lingkungan. Penciptaan alat ini tidak lepas dari persepsi masyarakat setempat
tentang cara memelihara lingkungan alam sehingga dapat dijadikan tempat untuk
mencari nafkah secara berkesinambungan. Walaupun masih tergolong sebagai
peralatan penangkap ikan tradisional, pukat aceh ini tetap menjadi alat
tangkap yang sangat penting bagi nelayan Aceh karena dapat memberikan hasil
tangkap yang cukup baik.
(Samsuni/bdy/04/03-10)
Referensi
Buku:
·
Nasruddin
Sulaiman, et al. 1992/1993. Peralatan menangkap ikan tradisional di
Kabupaten Aceh Besar. Daerah Istimewa Aceh: Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan Bagian Proyek Pembinaan Permuseuman Daerah Istimewa Aceh.
·
Poltak
Johansen. 2008. Teknologi tradisional pada masyarakat nelayan di Tarakan.
Pontianak: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Pontianak wilayah
kerja Kalimantan.
·
Rusdi
Sufi, et al. 1997. Sistem bagi hasil tradisional pada masyarakat etnis Aceh
dan Aneuk Jamee. Banda Aceh: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional
Banda Aceh.
Internet:
·
Agus
Sarwo. 2009. “Merajut pukat”, [Online], tersedia di (http://www.acehforum.or.id)
[diunduh pada tanggal 8 Maret 2010]
·
Anonim.
“Panglima La” [Online], tersedia di (http://wapedia.mobi). [diunduh pada tanggal 8 Maret 2010]
·
Fiqrin.
“Pukat pantai”, [Online], tersedia di (http://fiqrin.wordpress.com) [diunduh pada tanggal 8 Maret 2010].
·
Nazamuddin,
“Antara laut dan gunung: Keunikan dan keberagaman penghidupan penduduk Aceh
sebagai daya tarik wisata.” [Online], tersedia di (http://www43.indowebster.com)
[diunduh pada tanggal 8 Maret 2010]
·
Supardi
Ardidja. 2007. “Alat penangkap ikan”, [Online], tersedia di (http://www.scribd.com) [diunduh pada tanggal 8 Maret 2010]
·
Tadjuddah Muslim. 2009. “Kajian
keramahan lingkungan alat tangkap menurut klasifikasi statistik internasional
standar FAO, [Online],
tersedia di (http://tadjuddahmuslim.wordpress.com)
[diunduh pada tanggal 8 Maret 2010]
Sumber foto:
·
Nasruddin
Sulaiman, dkk. 1992/1993. Peralatan menangkap ikan tradisional di Kabupaten
Aceh Besar. Daerah Istimewa Aceh: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Bagian Proyek Pembinaan Permuseuman Daerah Istimewa Aceh.
Sumber Tulisan : http://melayuonline.com/ind/culture/dig/2587/pukat-aceh-peralatan-penangkap-ikan-nelayan-di-kabupaten-aceh-besar-nanggroe-aceh-darussalam





