![]() |
| Illustrasi |
SERAMBINEWS.COM, BIREUEN - Petani tambak di Bireuen hingga kini masih mengeluhkan sulitnya memperoleh jaringan listrik. Mereka masih memanfaatkan mesin genset untuk menghidupkan usaha tambak, sehingga membutuhkan biaya yang cukup besar.
Basri (39), petani tambak di Desa Kuala Ceurape, Kecamatan Jangka kepada Serambinews.com, Jumat (31/7/2015) mengatakan, seluas 50 hektar tambak di desa tersebut saat ini belum bisa digarap dengan baik, sehingga banyak tambak yang terlantar.
"Kami sangat mengharapkan pihak PLN membangun jaringan listrik ke area tambak, supaya kami dapat menggarap tambak dengan baik, selama ini kami terpaksa menggunakan genset dan membutuhkan biaya yang sangat besar untuk minyak genset, " kata Basri.
Selain Basri, hampir semua petani tambak di Bireuen hingga kini masih kesulitan jaringan listrik. Sehingga masih banyak tambak yang belum bisa digarap dengan baik.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Bireuen, M Jafar menambahkan, pihaknya juga sudah sering mendapat keluhan dari petani tambak terkait masih sulitnya memperoleh jaringan listrik. "Saat ini untuk membantu petani tambak, kami terpaksa meminjamkan genset kepada mereka, namun biaya operasional untuk genset sangat tinggi," katanya.
M Jafar juga mengharapkan kepada Pihak PLN untuk segera membangun jaringan listrik ke seluruh area tambak yang ada di Kabupaten Bireuen, guna membantu petani tambak dalam menggarap tambaknya.
Sementara itu, Kepala PLN Rayon Bireuen, Hasanuddin mengatakan, pihaknya akan segera melakukan survei ke sejumlah tambak di wilayahnya yang membutuhkan
kan jaringan listrik. "Kami akan segera turun ke lapangan untuk mendata kawasan tambak produktif yang membutuhkan jaringan listrik, " janjinya. (c38)
Sumber: agresi Serambinews.com

